TUGAS
BUSSINESS PRACTICE 4
UNIQUE ACTIVITY
LILIN UKIR (DIANDRA CANDLE)
DIANDRA CANDLE (LILIN UKIR)
“Diandra Candle” yaitu nama sebuah usaha lilin ukir, mulai dikembangkan DediWirabuanan dan Anton Wahyudi asal Kota Malang sejak tahun 2009 yang diawali dengan mencoba hingga beberapa kali sampai menghasilkan lilin ukir yang bagus dan berkualitas sehingga mempunyai harga jual dipasaran dan berhasil mendapatkan banyak keuntungan lewat seni membuat lilin ukir, semua itu karena tangan orang-orang kreatif selalu bisa memberi nilai tambah terhadap benda-benda sederhana.
Tidak begitu populer di Indonesia, tetapi lilin ukir produksi Diandra Candle menjadi primadona di luar Negeri. Dengan melihat peluang pasar internasional, Home Industry yang berada di Jalan Danau Bratan Timur I/B2 Sawojajar itu, bisa mendapatkan keuntungan sampai puluhan juta rupiah setiap bulannya.Tempat itu tidak terlalu besar, bahkan sangat kecil jika dibandingkan dengan banyaknya lilin yang mampu diekspor ke mancanegara. Namun, dari tempat yang menyatu dengan rumah itulah, ratusan lilin cantik berhasil menjajah pasar internasional. Jika umumnya lilin hanya tampil dalam bentuk batang-batang silinder, di keduanya lilin-lilin tersebut diukir dan diberi sentuhan warna-warni nan menarik menjadi aneka suvenir untuk pernikahan, ulang tahun, acara kematian di gereja.
Harga lilin ukir ini mulai dari yang paling kecil yaitu Rp 10 ribu/batang, sampai paling besar setinggi 60 cm yaitu Rp 100 ribu. Tak heran jika di luar negeri lilin mereka menjadi primadona, karena lilin ukir di Luar Negeri umumnya dijual seharga USD 30 atau Rp 300 ribu/batang. Bahan yang digunakan untuk membuat lilin ukir ini adalah parafin wax yang diimpor dari Cina didatangkan dari Negeri Tirai Bambu karena bahan ini sulit didapatkan di Indonesia.
Pada umumnya, wax lokal bersifat mengandung kadar minyak lebih banyak dan berbau. Sedangkan parafin wax dari Cina, lebih murni dengan kandungan minyak minim dan tidak berbau. Tingkat elastisitasnya juga tidak sama. Untuk membuat lilin ukir, bahan parafin wax lebih dulu dipisah-pisah sehingga menjadi bentuk batangan dan disesuaikan desain pesanan. Tidak dipahat seperti umumnya ukiran kerajinan Indonesian, lilin panas diukir menggunakan pisau setelah lebih dulu diwarnai sesuai keinginan.
Penyimpanan lilin ini juga tidak boleh sembarangan. Harus disimpan di tempat yang sejuk dengan kelembaban normal. Sedikit saja terkena suhu panas berlebih, tekstur dan warna lilin potong ini bakal berubah.
Selama ini pemasaran lilin ukir Diandra Candle lebih mengandalkan jejaring online dengan aktif di media-media sosial seperti facebook, twitter dan website. Karena selain lebih murah, jangkauan pemasaran lewat internet juga lebih luas. Jadi jika ada konsumen yang ingin memesan tinggal menghubungi melalui telephone atau lewat media sosial yang tersedia.
Selama tiga tahun terakhir, Diandra Candle tercatat sudah tiga kali mengirim pesanan ke Australia. Untuk satu kali pesanan, biasanya berisi ratusan lilin yang terangkum dalam satu paket. Lilin ukir buatan mereka, juga sudah tembus benua Eropa.
Kalau untuk dalam negeri, yang pesan banyak dari luar kota dan luar Jawa. Mulai dari Surabaya, Semarang, Jakarta, Kalimantan sampai Pulau Timor.
Kalau untuk dalam negeri, yang pesan banyak dari luar kota dan luar Jawa. Mulai dari Surabaya, Semarang, Jakarta, Kalimantan sampai Pulau Timor.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar